Ketika Tuhan Mengaku Punya Utang
Artikel oleh Muhammad Zaki Fahmi · 7 September 2026
Penguasa seluruh alam semesta, yang punya triliunan galaksi dan cadangan emas tak terbatas, tiba-tiba bilang: "Siapa yang mau meminjami-Ku utang?"
Pernahkah Anda membaca sebuah tawaran investasi yang begitu ganjil sampai-sampai akal sehat Anda terhenti sejenak? Tawaran itu datang bukan dari manajer investasi Wall Street, melainkan langsung dari Pemilik Alam Semesta. Tertulis abadi di Surah Al-Baqarah ayat 245:
مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً
(Man dzalladzī yuqridhullāha qardhan ḥasanan fayudhā‘ifahū lahū adh‘āfan katsīrah)
Artinya: "Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan kelipatan yang banyak."
Aneh, bukan? Sangat mencengangkan. Allah itu Mahakaya. Pemilik seluruh cadangan minyak bumi, emas di perut bumi, hingga triliunan bintang di antariksa. Mengapa Dia memakai istilah yuqridhullāh, menghutangi Allah? Apakah Tuhan sedang krisis likuiditas? Tentu saja mustahil.
Pak Sahiron mengupas metafora ini dengan sangat menyentuh. Bahasa Al-Qur’an itu teramat halus dan tinggi. Frasa "menghutangi Allah" sebenarnya adalah bentuk sanjungan paling agung dari Tuhan kepada manusia yang berhati dermawan.
Allah sangat bahagia melihat hamba-Nya tergerak menyisihkan harta untuk menolong sesama, membeli beras bagi tetangga lapar, menyantuni anak yatim, atau mengisi kotak masjid. Saking senangnya Allah pada empati kemanusiaan itu, Dia sampai memosisikan diri-Nya seolah-olah berutang budi kepada si pemberi.
Pesan tersiratnya begitu elegan: "Kamu bantu hamba-Ku yang lemah di bumi, Aku yang akan menanggung dan mengembalikan bayarannya." Dan siapa pun tahu, Tuhan tidak pernah ingkar janji kalau sudah urusan bayar-membayar.
Perhatikan lanjutannya: fayudhā'ifahū lahū adh'āfan katsīrah. Dalam disiplin ilmu qira'at (ragam bacaan Al-Qur'an), kalimat ini punya banyak warna.
Imam Ashim membacanya panjang dan bernada fatah (fayudhā'ifahū). Imam Abu Amr, Nafi’, Hamzah, dan Al-Kisa'i membacanya dhommah (fayudhā'ifuhū). Ada lagi yang membaca dengan tasydid tanpa alif seperti bacaan Ibnu Katsir (fayudha''ifuhū).
Variasi bacaan ini lahir dari ragam dialek kabilah Arab zaman Nabi yang semuanya diakui keabsahannya. Namun, seluruh ahli qira'at bersepakat pada satu titik: maknanya tidak bergeser seujung kuku pun. Semuanya bermakna melipatgandakan berpuluh-puluh kali lipat.
Berapa kelipatannya? Sepuluh kali? Ratusan kali?
Al-Qur'an sengaja memakai kata katsīrah (sangat banyak tak terhitung). Angkanya dibiarkan tanpa batas, hanya kasir langit yang tahu rahasia nominalnya. Balasan itu bisa diturunkan kontan berupa kelapangan rezeki dan kesehatan di dunia, dicadangkan sebagai tabungan abadi di akhirat, atau diguyurkan pada kedua-duanya sekaligus.
Namun, tunggu dulu. Utang ini punya syarat ketat. Labelnya harus qardhan hasanan, pinjaman yang berkelas. Kriterianya sederhana tapi menuntut disiplin batin: Sumber hartanya wajib halal murni, tidak tercemar uang haram. Bebas dari penyakit al-mann (bahasa Jawanya: ngundat-undat, mengungkit-ungkit jasa). Bersih dari al-adzā (ucapan atau lagak yang menyakiti hati si penerima). Tidak mengidap penyakit riya alias haus pujian panggung. Begitu Anda memberi, lupakan. Biarkan malaikat yang mencatat.
Lalu, bagaimana kita mempraktikkannya hari ini? Penyakit umum kebanyakan orang adalah hobi menunda: "Nanti saja kalau gajiku sudah dua digit," atau "Tunggu kalau bisnisku sudah untung ratusan juta, baru aku rajin infak." Itu jebakan ilusi.
Pak Sahiron memberi resep yang sangat membumi: mulailah dari uang receh, tapi lakukan setiap hari tanpa putus. Punya uang di dompet hanya Rp30.000? Keluarkan Rp500 atau Rp1.000 perak untuk orang lain. Punya Rp50.000? Masukkan Rp2.000 ke kotak amal. Belikan sebungkus nasi rames untuk tukang sampah di depan gang.
Jangan menunggu kaya raya untuk menjadi dermawan. Kuncinya bukan pada angka nominalnya yang fantastis, melainkan pada ketukan pintu istikamah yang Anda lakukan setiap hari. Jadikan memberi sebagai tarikan napas rutin: tiada hari tanpa sedekah. Percayalah, rezeki Anda tidak akan pernah menemukan jalan buntu.
Jangan pernah takut dompet Anda menipis karena berbagi; sebab ketika Anda meletakkan sebutir koin ke tangan sesama yang membutuhkan, sejatinya Anda sedang menyimpan piutang paling aman di brankas Sang Pemilik Jagat Raya.
Catatan: Disarikan dari pengajian Prof. Dr. Phil. KH. Sahiron Syamsuddin, MA. (pada 2 September 2026) kitab tafsir Marah Labid li Kasyfi Ma'na Al-Qur'an al-Majid karya Syekh Nawawi Al Bantani