Alasan Wabah, Mati Kembung, dan Doa Nabi Hizqil

Artikel oleh Muhammad Zaki Fahmi · 29 Agustus 2026

Pasukan tentara ini punya seribu alasan logis untuk kabur: "Maaf Paduka, di sana ada wabah mematikan." Tapi sepintar-pintarnya manusia mengarang dalih demi menghindari tugas, takdir Tuhan selalu punya cara paling ironis untuk menjemput.

Pernahkah Anda bertemu orang yang kalau disuruh kerja berat selalu punya sejuta alasan yang terdengar sangat masuk akal?

"Waduh, cuaca lagi ekstrem."

"Maaf, analisis risikonya terlalu tinggi."

Atau yang paling mutakhir: "Di sana banyak virus dan penyakit menular."

Ternyata, kebiasaan mencari alasan ilmiah untuk menutupi rasa takut itu bukan barang baru. Tiga ribu tahun lalu, ribuan tentara Bani Israil sudah mempraktikkannya dengan sangat rapi. Dan Al-Qur'an, lewat Surah Al-Baqarah ayat 243, merekam peristiwa itu bukan sekadar sebagai dongeng pengantar tidur, melainkan tamparan keras bagi siapa saja yang merasa bisa mengakali takdir dengan kalkulasi logika semata.

Mari kita selami latar sejarahnya. Diperkirakan terjadi antara rentang tahun 900 hingga 560 Sebelum Masehi, jauh sebelum kelahiran Nabi Isa AS, ada seorang raja Bani Israil yang memerintahkan bala tentaranya berangkat ke medan laga guna mempertahankan kedaulatan wilayah. Namun, nyali para jenderal dan pasukannya menciut. Mereka tidak mau berperang. Hebatnya, mereka tidak menolak secara terang-terangan dengan kata "kami takut". Mereka memakai dalih kesehatan masyarakat!

Sebagaimana dicatat Syekh Nawawi Al-Bantani dari riwayat sahabat Ibnu Abbas RA, para tentara itu berdiplomasi di depan rajanya:

إِنَّ الْأَرْضَ الَّتِي نَذْهَبُ إِلَيْهَا فِيهَا الْوَبَاءُ، لَا نَذْهَبُ إِلَيْهَا حَتَّى يَزُولَ ذَلِكَ الْوَبَاءُ

Innal ardhal-latī nadzhabu ilaihā fīhal wabā’u, lā nadzhabu ilaihā ḥattā yazūla dzālikal wabā’

Artinya: "Sesungguhnya negeri yang hendak kita tuju itu sedang dilanda wabah penyakit. Kami tidak akan pergi ke sana sampai wabah itu benar-benar hilang"

Alasan yang sangat ilmiah, bukan? Sang raja tak bisa berbuat banyak. Ribuan pasukan itu, ada yang menyebut 8.000, ada riwayat lain mengatakan 40.000 orang, akhirnya berbondong-bondong melarikan diri meninggalkan tanah airnya. Mereka merasa menang: tugas negara lolos, nyawa pun aman dari wabah.

Tapi, manusia boleh berencana dengan ribuan kalkulasi rasional, sementara skenario langit bekerja dengan cara yang tak tertebak. Begitu mereka tiba di tempat persembunyian yang dirasa aman, Allah tidak mengirim musuh bersenjata. Tidak pula mendatangkan badai petir. Secara tiba-tiba, perut mereka terasa kembung (intafakhat butūnuhum). Kembung itu membesar, menekan dada, memicu sesak napas hebat, hingga satu per satu dari puluhan ribu prajurit itu tumbang. Mati serempak.

Saking banyaknya mayat yang bergelimpangan, warga yang masih hidup dibuat kewalahan. Tak ada tenaga dan tanah yang cukup untuk menguburkan puluhan ribu jasad sekaligus (fa'ajazū min katsratihim). Akibatnya, mayat-mayat itu dibiarkan tergeletak di alam terbuka selama delapan hari hingga menebarkan aroma tak sedap.

Kabur dari medan laga demi menghindari mati, ujung-ujungnya malah mati konyol tanpa sempat mengayunkan pedang. Drama kematian massal ini baru berakhir di hari kedelapan. Melintaslah seorang nabi bernama Hizqil (dalam tradisi Ibrani dikenal sebagai Nabi Yehezkiel). Menyaksikan pemandangan yang begitu memilukan, Nabi Hizqil menengadahkan tangan ke langit. Beliau berdoa memohon agar Allah mengembalikan nyawa ribuan jasad tersebut sebagai tanda kebesaran-Nya.

Doa itu menembus langit. Seketika, jasad-jasad yang perutnya kembung dan terbengkalai itu bergerak pelan, lalu bangun serempak seperti orang yang baru tersentak dari tidur panjang: Fa-aḥyāhumullāh! (Maka Allah menghidupkan mereka kembali).

Pak Sahiron memberikan catatan yang sangat berbobot dari kisah ini. Mengapa Al-Qur'an tidak merinci secara kaku apakah mereka kabur karena perang atau wabah? Jawabannya: Al-Qur'an memberi ruang bagi akal manusia untuk melakukan riset sejarah, sekaligus menegaskan bahwa yang terpenting dari sebuah kisah adalah ibrah: pesan etikanya. Pesan tauhidnya sangat telak: Tuhan itu Maha Kuasa atas segala hal.

Mau orang Yahudi menyebut-Nya Yahweh, orang Barat memanggil-Nya God, tradisi Jawa kuno menyebut Sang Hyang Widhi Wasa, atau kita umat Islam melafalkan Allah Subhanahu wa Ta'ala, hakikat Sang Pencipta alam semesta ini mutlak hanya satu. Mustahil Tuhan ada dua. Sebab jika ada dua penguasa yang sama-sama berkehendak atas alam semesta, jagat raya ini pasti sudah hancur lebur oleh pertengkaran ego ketuhanan.

Kisah pasukan penakut ini memberikan tamparan telak bagi cara hidup kita di era modern. Kita sering kali terlalu mendewakan analisis rasional di atas kertas sampai-sampai lupa menyisakan ruang bagi tawakal. Kita mengira keselamatan, rezeki, dan masa depan bisa sepenuhnya dijamin oleh kelihaian kita menghindar dan bersembunyi dari tanggung jawab. Kalkulasi akal itu wajib, tetapi menyandarkan hati hanya kepada Sang Pemilik Jiwa adalah segalanya.

Sepintar apa pun Anda merancang dalih untuk lari dari kewajiban hidup, ingatlah: tidak ada tempat persembunyian yang cukup rapat untuk mengelabui takdir Tuhan.

Catatan: Disarikan dari pengajian Prof. Dr. Phil. KH. Sahiron Syamsuddin, MA. (pada 20 Agustus 2026) kitab tafsir Marah Labid li Kasyfi Ma'na Al-Qur'an al-Majid karya Syekh Nawawi Al Bantani

Baca selengkapnya di Reliwise