Lari dari Kematian, Mati di Persembunyian

Artikel oleh Muhammad Zaki Fahmi · 27 Agustus 2026

Beribu-ribu orang kabur dari medan laga karena takut mati, eh, malah mati serempak di tempat persembunyian tanpa tersentuh sebutir peluru pun.

Kalau ada perlombaan paling sia-sia di muka bumi ini, juaranya adalah: mencoba lari dari takdir kematian. Semakin kencang Anda berlari menghindarinya, sering kali di ujung jalan itulah maut justru sudah menunggu sambil tersenyum simpul.

Tragedi sekaligus ironi inilah yang diabadikan dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 243. Syaikh Nawawi Al-Bantani dalam tafsir Marah Labid mengupas latar belakang ayat ini dengan sangat hidup. Ceritanya terjadi jauh sebelum era Islam. Pelakunya adalah sekelompok besar Bani Israil.

Jumlahnya luar biasa banyak. Riwayat dari sahabat Abdullah bin Abbas menyebut ada yang meriwayatkan 8.000 orang, bahkan ada jalur riwayat lain yang menyebut sampai 40.000 orang. Al-Qur'an sendiri hanya merangkumnya dengan satu kata: Ulūf (beribu-ribu).

Alkisah, kampung halaman mereka terancam diserbu musuh. Sebagai warga, mereka punya kewajiban moral dan perintah membela tanah air serta mempertahankan kehormatan diri. Tapi apa yang terjadi? Nyali mereka ciut. Takut mati.

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ فَقَالَ لَهُمُ اللَّهُ مُوتُوا ثُمَّ أَحْيَاهُمْ

Alam tara ilalladzīna kharajū min diyārihim wahum ulūfun ḥadzaral mawt, faqāla lahumullāhu mūtū tsumma aḥyāhum

Artinya: "Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halamannya, sedang jumlah mereka beribu-ribu karena takut mati? Lalu Allah berfirman kepada mereka: 'Matilah kamu!' Kemudian Allah menghidupkan mereka kembali."

Anda bayangkan adegan ini. Puluhan ribu orang berbondong-bondong angkat kaki meninggalkan rumah. Mereka mencari lembah atau tempat persembunyian terpencil yang dirasa aman dari dentuman perang. Mereka merasa cerdik: "Kita selamat dari maut."

Namun, hukum alam milik Sang Pencipta tidak bisa diakali dengan taktik sembunyi. Begitu mereka tiba di tempat pelarian, tanpa ada perang, tanpa ada wabah kolera, tanpa ada pedang yang menyabet, Allah cukup berfirman: Mūtū! (Matilah kalian!). Seketika, puluhan ribu orang itu roboh. Mati serempak.

Mereka lari dari perang karena takut mati, tapi justru mati konyol di tempat yang mereka anggap paling aman. Delapan hari lamanya jasad-jasad itu bergelimpangan tanpa ada yang mengubur. Sampai akhirnya seorang nabi melintas, iba melihat pemandangan tragis itu, lalu berdoa memohon kepada Allah agar mereka dihidupkan kembali sebagai bukti kemahakuasaan-Nya.

Doa itu dikabulkan. Puluhan ribu mayat itu bangkit dan bernapas kembali: Tsumma aḥyāhum.

Pelajaran tauhidnya menusuk sampai ke sumsum tulang:

إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Innallāha 'alā kulli syai'in qadīr: Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Dalam ilmu akidah, bagi Allah tidak ada yang mustahil. Orang hina bisa diangkat jadi mulia, orang pintar bisa mendadak linglung, yang hidup bisa dicabut nyawanya dalam sekejap, dan yang sudah membusuk pun bisa dibangunkan kembali dalam hitungan detik. Satu-satunya hal yang mustahil bagi Allah hanyalah menciptakan tuhan baru, karena Tuhan sejati pastilah Maha Esa dan tidak diciptakan.

Lewat kisah ini, Nabi Muhammad SAW, dan tentu saja kita semua, diingatkan untuk meruntuhkan ketergantungan pada berhala-berhala duniawi. Mengapa harus takut pada ancaman manusia, jika urusan napas kita sepenuhnya dipegang oleh Sang Pemilik Nyawa?

Lucunya, watak dasar manusia yang bebal memang sulit sembuh. Sudah mati delapan hari lalu dihidupkan lagi, apakah mereka langsung jadi orang saleh selamanya? Ternyata tidak juga. Setelah sadar, sebagian besar tetap saja kembali ragu dan membangkang.

Ini mirip rombongan 40 tokoh pilihan di zaman Nabi Musa AS. Mereka sudah beriman, tapi tetap rewel mengajukan syarat: "Wahai Musa, perlihatkan wujud Allah secara langsung di depan mata kami biar kami makin mantap!

Nabi Musa sudah memperingatkan bahwa mata manusia tidak dirancang untuk menatap Zat Sang Pencipta. Sesuatu yang terlalu jauh tak bisa kita lihat, sesuatu yang ditempelkan terlalu dekat ke kelopak mata pun tak tampak.

Tapi dasar keras kepala. Begitu Allah memancarkan seberkas cahaya keagungan-Nya, 40 orang itu langsung tumbang dan tewas seketika karena tak sanggup menahan kedahsyatannya. Lagi-lagi Nabi Musa harus memohon agar mereka dihidupkan kembali supaya umatnya tidak habis.

Hidup ini sering kali membuat kita cemas berlebihan. Kita takut miskin, takut gagal, takut ancaman orang, sampai-sampai kita tergoda untuk lari dari prinsip kebenaran demi mencari "zona aman".

Padahal kisah Al-Baqarah 243 ini menyadarkan kita: tempat teraman di dunia ini bukanlah persembunyian yang jauh dari masalah, melainkan kepatuhan penuh pada kehendak-Nya. Jika puluhan ribu jasad yang sudah mati delapan hari saja bisa dibangunkan kembali dengan mudah oleh Allah, apalah artinya kerumitan masalah hidup yang sedang menghimpit dada Anda hari ini?

Teruslah berikhtiar, kencangkan doa, dan serahkan ujungnya kepada Sang Maha Kuasa.

Kematian dan jalan keluar tak pernah tertukar alamatnya; yang membuat kita hancur bukanlah besarnya badai di depan mata, melainkan hilangnya tawakal di dalam dada.

Catatan: Disarikan dari pengajian Prof. Dr. Phil. KH. Sahiron Syamsuddin, MA. (pada 18 Agustus 2026) kitab tafsir Marah Labid li Kasyfi Ma'na Al-Qur'an al-Majid karya Syekh Nawawi Al Bantani.

Baca selengkapnya di Reliwise