Diberi Nabi, Minta Raja
Artikel oleh Muhammad Zaki Fahmi · 12 Oktober 2026
Mengeluh karena ditindas dan menuntut lahirnya pemimpin baru itu gampang. Tapi begitu pemimpin yang diidamkan benar-benar datang dan menodong komitmen pengorbanan, berapa banyak dari kita yang justru langsung putar balik dan sembunyi?
Pernahkah Anda memperhatikan watak kita saat sedang terjepit masalah besar? Biasanya, kita malas disuruh introspeksi diri. Diberi nasihat sabar, dianggap basi. Diberi wejangan moral, dibilang tidak menyelesaikan urusan perut.
Yang kita cari selalu satu: figur penyelamat. Kita ingin seorang "Ratu Adil", jenderal perkasa, atau pemimpin hebat yang bisa menyulap segala derita lenyap dalam semalam.
Penyakit psikologis ini ternyata umurnya sudah ribuan tahun. Panggungnya tercatat rapi di lembaran Surah Al-Baqarah ayat 246. Ceritanya terjadi beberapa abad setelah wafatnya Nabi Musa AS.
Kala itu, kehidupan bangsa Bani Israil sedang remuk redam. Mereka dijajah dan diinjak-injak oleh seorang penguasa tiran bernama Jalut, dalam literatur barat dikenal sebagai Goliath. Kejamnya bukan main. Keturunan mereka dibantai, ibu-ibu hamil disekap, dan tanah air mereka dirampas paksa.
Di tengah nestapa itu, Allah mengirimkan seorang nabi pembimbing. Para ahli tafsir memperdebatkan namanya: ada yang menyebut Nabi Samuel, Sam’un, Yusya’ bin Nun, hingga Hizqil.
Fungsi nabi jelas: menata moral, meluruskan akidah, dan membimbing jiwa.
Namun, apa reaksi kaum yang sedang tertindas itu? Mereka merasa bimbingan agama saja tidak cukup. Mereka butuh sosok algojo politik.
Mereka datang menemui sang nabi lalu menodongkan tuntutan:
إِذْ قَالُوا لِنَبِيٍّ لَّهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُّقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
(Idz qālū linabiyyin lahumub‘ats lanā malikan nuqātil fī sabīlillāh)
Artinya: "Ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka: 'Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang di jalan Allah.'"
Logika mereka terdengar gagah: "Beri kami seorang raja atau jenderal perang. Di bawah komandonya, kami bersumpah akan maju bertempur membela tanah air dan menghabisi musuh."
Apakah sang nabi langsung terharu mendengar semangat patriotisme itu? Sama sekali tidak. Sang nabi sudah hafal luar kepala watak kaumnya.Maka, beliau melontarkan pertanyaan yang sangat skeptis, tajam, dan langsung menusuk ulu hati:
قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِن كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلَّا تُقَاتِلُوا
(Qāla hal ‘asaitum in kutiba ‘alaikumul-qitālu allā tuqātilū)
Artinya: "Dia (sang nabi) menjawab: 'Jangan-jangan jika nanti diwajibkan atasmu berperang, kalian justru tidak mau berperang?'"
Kata hal ‘asaitum di sini mirip sindiran telak: "Kalian jangan banyak gaya menuntut pemimpin baru. Jangan-jangan nanti kalau rajanya sudah dipilih dan perintah perang benar-benar turun, kaki kalian malah gemetar lalu lari sembunyi."
Tentu saja mereka mengelak dengan sejuta retorika pembelaan diri.
"Mana mungkin kami menolak perang, wahai Nabi? Kami ini korban! Kami sudah diusir dari kampung halaman dan dipisahkan dari anak-istri kami!"
Di atas kertas, alasan mereka sempurna. Tapi sejarah selalu punya cara membongkar kepalsuan kata-kata.
Syekh Nawawi Al-Bantani dalam tafsirnya membedah formula menarik di balik kisah ini: shalāhu amri Bani Isrā’īla bil-ijtimā’i ‘alal-mulūki wa thā’atil-mulūki anbiya’ahum.
Sebuah peradaban hanya akan tegak dan makmur jika dua poros kekuasaan berjalan seiring: Umara (pemerintah/raja) dan Ulama (para nabi/agamawan).
Pemerintah bertugas memegang kendali eksekutif, menjaga ketertiban, dan melindungi rakyat dengan kekuatan hukum. Namun sang raja tidak boleh bertindak sewenang-wenang; langkahnya harus dipandu oleh nilai moral dan etika luhur yang disuarakan oleh para agamawan yang jujur (yusyīru ‘alaihi birusydihi).
Bukan tokoh agama penjilat yang sibuk mencari panggung kekuasaan untuk perutnya sendiri, melainkan pembimbing nurani yang tulus memikirkan nasib rakyat kecil. Jika dua pilar ini rukun, rakyat hidup tenang. Sejahtera lahir dan batin.
Namun, ada satu cermin besar yang ditinggalkan ayat 246 ini bagi kita hari ini.
Betapa seringnya kita mengeluhkan keadaan negeri, mencaci carut-marutnya birokrasi, lalu menuntut hadirnya pemimpin ideal yang tanpa cela. Kita merasa seluruh kesialan hidup kita akan selesai begitu ada pemimpin baru yang duduk di kursi singgasana.
Padahal, sering kali yang rusak bukan ketiadaan figur pemimpin, melainkan mentalitas kita sendiri yang enggan memikul beban disiplin.
Kita menuntut perbaikan nasib, tapi begitu diwajibkan taat aturan, membayar pajak, tertib antre, atau berkorban sedikit demi kepentingan bersama, kita langsung mencari celah untuk mangkir.
Persis seperti watak purba Bani Israil: saat ditindas teriak-teriak minta raja dan bersumpah siap mati membela tanah air, tapi begitu genderang perang benar-benar ditabuh, satu per satu justru menyelinap kabur lewat pintu belakang.
Menuntut pemimpin yang sempurna adalah pekerjaan paling mudah di muka bumi; yang paling sulit adalah memastikan bahwa diri kita sendiri tidak bermental pecundang saat panggilan pengorbanan itu tiba.
Catatan: Disarikan dari pengajian Prof. Dr. Phil. KH. Sahiron Syamsuddin, MA. (pada 6 Oktober 2026) karya Syekh Nawawi Al-Bantani.