Bangun dari Kematian Langsung Disuruh Tempur

Artikel oleh Muhammad Zaki Fahmi · 4 September 2026

Baru bangun dari kematian selama delapan hari, perintah pertama yang turun dari langit ternyata bukan disuruh istirahat atau pesta tumpengan: "Angkat senjatamu, pertahankan tanah airmu!"

Coba Anda bayangkan berada di posisi ini. Anda baru saja dinyatakan meninggal dunia. Mati terkapar selama delapan hari sampai jasad membusuk dan menebarkan aroma tak sedap. Lalu, lewat doa Nabi Hizqil, mukjizat langit bekerja: Anda tersentak bangun, bernapas kembali, dan mendapati diri Anda hidup segar bugar.

Kira-kira, apa hal pertama yang Anda bayangkan akan diperintahkan oleh Tuhan? Mungkin liburan untuk memulihkan trauma? Atau bikin syukuran pesta potong tumpeng bersama keluarga? Ternyata tidak. Perintah pertama yang jatuh dari langit justru bikin dada berdegup kencang:

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

(Waqātilū fī sabīlillāhi wa’lamū annallāha samī’un ‘alīm)

Artinya: "Dan berperanglah kamu di jalan Allah, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 244)

Ya, Anda tidak salah baca: mereka langsung disuruh tempur. Bagi yang menyimak kisah sebelumnya, ayat 244 ini adalah kelanjutan tak terpisahkan dari tragedi puluhan ribu warga Bani Israil di ayat 243. Dulu mereka lari terbirit-birit meninggalkan kampung halaman karena ogah berperang membela tanah air. Takut mati. Ujung-ujungnya, mereka malah mati konyol bersama-sama di tempat pelarian.

Kini, setelah diberi "napas kedua" oleh Allah, tanah air mereka ternyata masih dalam cengkeraman musuh. Masih dijajah. Maka ujian kesadaran itu langsung diuji di depan mata: Kalian dulu lari karena takut mati, sekarang kalian sudah merasakan mati dan terbukti Allah sanggup menghidupkan kalian lagi. Sekarang, masih punya alasan untuk lari dari kewajiban membela tanah air?

Namun, Syekh Nawawi Al-Bantani memberikan catatan tafsir yang sangat mencerahkan agar pembaca Al-Qur'an tidak gagal paham. Perintah berperang di ayat ini dibatasi dengan pagar yang sangat kokoh: فِي سَبِيلِ اللَّهِ (Fī sabīlillāh). Apa maknanya? Syekh Nawawi memaknainya secara lugas: Fī thā'atillāh, di dalam koridor ketaatan kepada Allah.

Perang di sini bukan agresi militer untuk menjarah ladang minyak negara lain. Bukan invasi serakah demi memperluas hegemoni bisnis atau menindas bangsa yang lemah. Itu bukan fisabilillah, melainkan li gharadhid dunya: perang demi syahwat duniawi.

Perang yang diperintahkan Al-Qur'an adalah perlawanan membela diri dan mempertahankan hak saat dizalimi. Membela tanah air dari penjajahan adalah bagian mutlak dari ketaatan kepada Sang Pencipta agar kejahatan tidak merajalela di muka bumi.

Lalu, bagaimana dengan kita yang hidup ribuan tahun kemudian di era damai tanpa desingan peluru? Di sinilah indahnya Al-Qur'an. Kata sabīlan ilallāh (jalan menuju Allah) mencakup seluruh jengkal ibadah dan pengabdian manusia.

Jihad itu bukan monopoli orang yang memegang senapan. Seorang guru honorer atau dosen yang harus menempuh jalan becek, naik sepeda butut, lalu berjalan kaki menembus hutan dan gunung demi mengajar anak-anak di pedalaman, itu adalah jihad fī sabīlillāh.

Seorang ibu yang bertaruh nyawa di atas meja persalinan demi melahirkan generasi baru, itu adalah jihad fī sabīlillāh.

Seorang ayah yang memeras keringat di pasar atau jalanan mencari nafkah halal demi sesuap nasi anak-istrinya, itu pun jihad fī sabīlillāh.

Jika maut menjemput mereka saat sedang menunaikan tugas suci tersebut, status mereka di mata syariat adalah syahid: gugur di puncak ketaatan tertinggi kepada Tuhannya. Maka, perhatikan kalimat penutup ayat ini yang begitu menusuk nurani:

Wa’lamū annallāha samī’un ‘alīm. Ketahuilah, Allah itu Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Telinga Tuhan mendengar segalanya (samī'un li kalāmikum). Dia mendengar siapa yang terus menyemangati orang lain untuk berjuang, dan Dia juga mendengar bisik-bisik para pecundang yang kerjanya menebar provokasi: "Ngapain repot-repot mengabdi? Ngapain susah-susah naik gunung? Mending cari aman saja!"

Lebih dari itu, Allah 'Alīm: Maha Mengetahui getaran paling rahasia di dalam dada (fī ṣudūrikum). Apakah keringat perjuangan kita hari ini benar-benar demi mengabdi kepada-Nya, atau sekadar pencitraan demi mengejar tepuk tangan dunia?

Kisah pasukan yang dihidupkan kembali ini meninggalkan satu cermin besar bagi perjalanan hidup kita hari ini. Sering kali kita mengeluh karena dibebani tugas yang berat. Kita tergoda untuk lari, cari selamat, dan bersembunyi di balik zona nyaman.

Padahal, kesempatan hidup yang sedang kita nikmati detik ini sejatinya adalah "napas pinjaman" yang bisa dicabut sewaktu-waktu tanpa aba-aba. Kematian fisik bukanlah tragedi yang sesungguhnya; tragedi terbesar dalam hidup adalah ketika jasad kita masih bernapas di muka bumi, namun jiwa kita sudah mati suri karena menolak berjuang bagi sesama.

Catatan: Disarikan dari pengajian Prof. Dr. Phil. KH. Sahiron Syamsuddin, MA. (pada 2 September 2026) kitab tafsir Marah Labid li Kasyfi Ma'na Al-Qur'an al-Majid karya Syekh Nawawi Al Bantani

Baca selengkapnya di Reliwise