Ketika Tuhan Memilih Bertanya: Seni Tingkat Tinggi Menegur Tanpa Menggurui
Artikel oleh Muhammad Zaki Fahmi · 15 Agustus 2026
Kalau Penguasa Alam Semesta saja memilih bertanya ketimbang membentak saat berbicara dengan makhluk-Nya, kenapa kita yang cuma manusia biasa begitu gemar memerintah?
Coba ingat-ingat lagi: seberapa sering Anda merasa jengkel hanya gara-gara nada bicara seseorang?
Bukan karena tugas yang diberikan itu berat. Bukan pula karena permintaannya mustahil. Tapi cara menyampaikannya itu, lho: "Tolong bikin ini sekarang!", "Cepat selesaikan laporan itu!", atau di rumah: "Bu, mana kopinya, kok belum dibikin?"
Semuanya serba kalimat perintah. Kering. Kaku. Mirip instruksi seorang juragan kepada budaknya.
Padahal, jika kita mau belajar seni diplomasi dan komunikasi dari level yang paling puncak, Al-Qur'an menyajikan kelas eksekutifnya secara cuma-cuma. Panggungnya ada di Surah Al-Baqarah ayat 243.
Mari kita buka kitab tafsir Marah Labid karya Syekh Nawawi Al-Bantani. Di sana, Allah membuka sebuah kisah sejarah tentang ribuan pejuang Bani Israil zaman Nabi Musa yang lari dari kampung halamannya karena takut mati.
Perhatikan bagaimana Allah membuka ayat tersebut:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ
(Alam tara ilalladzīna kharajū min diyārihim wahum ulūfun hadzaral mawt)
Artinya: "Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu jumlahnya karena takut mati?"
Tahan dulu. Jangan buru-buru masuk ke inti ceritanya.
Prof. Sahiron mengajak kita membedah strukturnya terlebih dahulu. Ada kata أَلَمْ تَرَ (Alam tara: Apakah engkau belum mengetahui/melihat?).
Kata melihat di sini tentu bukan melihat dengan mata kepala, melainkan penglihatan hati dan akal. Sebab peristiwa itu terjadi ribuan tahun sebelum Nabi Muhammad SAW lahir.
Namun yang paling dahsyat adalah gaya bahasanya: Allah bertanya. Coba Anda renungkan hierarkinya.
Allah adalah Sang Pencipta alam semesta. Pemilik otoritas tertinggi tanpa tanding. Nabi Muhammad adalah hamba dan makhluk-Nya. Jarak derajatnya tak terhingga.
Kalau ada pihak di alam semesta ini yang punya hak mutlak untuk 24 jam memerintah tanpa basa-basi, ya hanya Allah SWT. Dan memang, banyak ayat Al-Qur'an yang menggunakan bentuk perintah tegas (fi'il amar): Dirikanlah salat!, Tunaikanlah zakat!, Katakanlah!
Tapi di ayat ini, Allah memilih tidak memakai kalimat perintah seperti "Ketahuilah wahai Muhammad"
Allah justru menyapanya dengan pertanyaan yang amat halus: "Tidakkah engkau tahu?"
Ini pelajaran kepemimpinan kelas atas. Jika Penguasa Alam Semesta saja menggunakan seni bertanya saat berkomunikasi dengan makhluk-Nya, betapa memalukannya kita, yang derajatnya sama-sama manusia, jika setiap hari hanya bisa 'menggonggongkan' perintah kepada orang lain?
Mari kita tarik ayat ini ke meja makan dan ruang kerja kita hari ini.
Seorang bos di kantor, jangan tiap menit menodong bawahan dengan: "Tolong ketik ini!", "Tolong print itu!" Sesekali, ubahlah menjadi: "Kira-kira ada waktu luang nggak ya untuk bantu cek data ini?"
Substansinya sama-sama menyuruh, tapi rasanya di telinga bawahan bak bumi dan langit.
Begitu juga dalam rumah tangga.
Seorang suami yang mendadak ingin makan mi rebus malam-malam, jangan berlagak seperti mandor: "Bu, rebuskan Indomie!"
Cobalah bertanya dengan manis: "Bu, lagi repot nggak ya? Kalau sempat dan nggak capek, boleh minta tolong masakin mi rebus?"
Atau saat melihat cucian menumpuk: "Bu, kira-kira kapan ada waktu mencuci? Mau dibagi tugas biar saya yang nyapu dan cuci piring?"
Pertanyaan seperti itu menghargai martabat. Tidak bikin orang merasa dikecilkan.
Ada sebuah kaidah kehidupan yang sangat menarik: 90 persen masalah di dunia ini selesai bukan oleh substansinya, melainkan oleh cara komunikasinya. Hanya 10 persen sisanya yang benar-benar urusan teknis materi.
Banyak proyek kantor hancur bukan karena konsepnya jelek, tapi karena bosnya arogan saat bicara. Banyak rumah tangga retak bukan karena kekurangan beras, tapi karena cara menegurnya saling melukai perasaan.
Belajarlah menyusun kata. Belajarlah memilih nada.
Perintah yang dibungkus dengan kesombongan hanya akan melahirkan kepatuhan yang terpaksa, namun teguran yang disampaikan lewat kelembutan akan selalu mengetuk pintu hati yang paling dalam.
Catatan: Disarikan dari pengajian Prof. Dr. Phil. KH. Sahiron Syamsuddin, MA. (pada 12 Agustus 2026) kitab tafsir Marah Labid li Kasyfi Ma'na Al-Qur'an al-Majid karya Syekh Nawawi Al Bantani.