Siapa Insinyur Pohon Itu?

Artikel oleh Muhammad Zaki Fahmi · 31 Agustus 2026

"Kalau jembatan ini dibuat insinyur, lalu pohon raksasa, tanah, dan air di hutan itu dirancang oleh insinyur mana?"

"Buktikan sekarang kalau Tuhan itu ada. Tunjukkan ke saya!"

Tantangan itu meluncur begitu enteng dari mulut seorang kawan di Jerman. Tanpa tedeng aling-aling.

Waktu itu sekitar tahun 2001–2006, saat Pak Sahiron sedang menempuh studi dan mengikuti kursus bahasa di sana. Lawan bicaranya adalah seorang pemuda berdarah campuran: ibunya Protestan, ayahnya Katolik, tapi anaknya sendiri memilih ateis tulen. Dia tidak percaya Tuhan, apalagi percaya bahwa manusia yang sudah mati kelak bakal dihidupkan kembali.

Kalau Anda ditodong pertanyaan seperti itu di tengah jalan, kira-kira mau jawab apa?

Menjelaskan dalil kitab suci tentu percuma kepada orang yang tidak beriman. Mau memperlihatkan wujud Tuhan secara fisik juga mustahil, karena mata manusia didesain dengan keterbatasan, benda yang terlalu jauh tak bisa ditangkap, benda yang ditempelkan persis di depan pelupuk mata pun tak tampak.

Pak Sahiron lantas mengajak kawan tersebut berjalan kaki menyeberangi sebuah jembatan kota yang panjang. Sambil melangkah, sebuah ide spontan muncul.

"Menurutmu, jembatan panjang ini ada yang membuat tidak?" tanya Pak Sahiron.

Kawan Jermannya langsung mendengus geli: "Pertanyaan bodoh macam apa itu? Ya pastilah ada! Dibuat oleh tim insinyur dan ahli konstruksi."

"Oke. Kalau gedung-gedung dan hotel megah di sebelah sana?"

"Sama. Dibuat insinyur."

Tak lama kemudian, langkah kaki mereka membimbing keduanya masuk ke area hutan kota. Udara mendadak teduh. Pohon-pohon raksasa berdiri menjulang dengan akar yang kokoh mencengkeram bumi.

Pak Sahiron berhenti, lalu menunjuk salah satu pohon besar di hadapannya.

"Nah, kalau pohon sebesar ini dirancang oleh insinyur mana? Insinyur Jerman? Jepang? Atau insinyur Amerika?"

Kawan ateisnya terdiam. Matanya mengerjap. Dia tampak kaget karena tidak menyangka bakal ditodong analogi seperti itu.

"Pohon ini ya tumbuh sendiri," jawabnya ragu. "Ada tanah, ada biji, kena air hujan, lalu membesar."

Pak Sahiron tersenyum mengejar: "Lalu tanahnya dibuat siapa? Airnya dirancang oleh siapa?" Skakmat. Sang kawan kelabakan dan tak bisa lagi membantah.

Keraguan manusia modern terhadap hal-hal metafisika sebenarnya penyakit purba yang cuma berganti pakaian. Ribuan tahun lalu, bangsa Arab Jahiliyyah dan sebagian orang Yahudi juga mencibir konsep Al-Ma'ad, hari di mana manusia dibangkitkan dari kubur untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Logika mereka menolak: mana mungkin tulang-belulang yang sudah hancur lebur bisa bernyawa lagi?

Untuk membungkam logika sempit itulah, Allah menurunkan penggalan kisah di Surah Al-Baqarah ayat 243. Kisah tentang puluhan ribu pasukan zaman Nabi Hizqil yang mati terkapar selama 8 hari hingga membusuk, lalu dibangunkan kembali dalam sekejap hanya lewat satu perintah: Qudratullah.

Secara Maghza Tarikhi (makna sejarah masa lalu), ayat ini adalah instrumen dakwah untuk menyadarkan kaum musyrik Makkah bahwa kebangkitan setelah mati itu nyata. Namun secara Maghza Mutaharrik Mu'ashir (makna dinamis untuk masa kini), ayat ini menjadi tamparan bagi siapa saja di era modern yang merasa hidupnya selesai begitu tanah kuburan ditimbun.

Perhatikan bagaimana Allah mengunci ayat tersebut:

إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ

(Innallāha ladzū faḍlin ‘alan-nāsi walākinna aktsaran-nāsi lā yasykurūn)

Artinya: "Sesungguhnya Allah memiliki karunia (yang besar) atas manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur."

Ayat ini ditutup bukan dengan kata "kebanyakan manusia tidak percaya", melainkan "kebanyakan manusia tidak bersyukur". Kenapa? Karena menghidupkan kembali manusia yang sudah mati, atau memberi kita napas di bumi hari ini, bukan cuma unjuk kekuatan Mahakuasa, melainkan bentuk kasih sayang (fadhl) yang memberi kita kesempatan kedua untuk bertobat dan menata diri.

Tuhan tidak butuh pembuktian rumit di laboratorium untuk menunjukkan keberadaan-Nya; alam semesta sudah menyediakannya di setiap hembusan angin, lembar daun, dan denyut nadi kita.

Kita tak perlu menunggu jasad kita mati lalu dibangunkan kembali untuk percaya pada kekuasaan-Nya; cukup sadari bahwa satu tarikan napas Anda detik ini adalah tanda tangan Sang Maha Insinyur yang tak pernah berhenti bekerja.

Catatan: Disarikan dari pengajian Prof. Dr. Phil. KH. Sahiron Syamsuddin, MA. (pada 26 Agustus 2026)

Baca selengkapnya di Reliwise