Tuhanmu Miskin, Kami yang Kaya

Artikel oleh Muhammad Zaki Fahmi · 11 September 2026

Bayangkan ada orang yang begitu kikirnya, sampai-sampai saat disuruh sedekah dia malah mengejek: "Kalau Tuhanmu kaya, kenapa Dia minta utang ke kami?"

Bayangkan ada orang yang begitu kikirnya, sampai-sampai ketika disuruh menyisihkan sedikit hartanya untuk orang miskin, dia malah balik mengejek Tuhan.

Logikanya jungkir balik: "Lho, kalau Tuhanmu memang Mahakaya, kenapa Dia tidak turunkan saja makanan langsung dari langit ke piring orang miskin? Kenapa malah menyuruh kami yang susah payah kerja banting tulang untuk memberi makan mereka?"

Ketus. Sinis. Menusuk ulu hati.

Tetapi itulah respons nyata yang tercatat dalam lembaran sejarah di Madinah. Persisnya ketika Surah Al-Baqarah ayat 245 turun, ayat yang menggunakan metafora begitu indah tentang "siapa yang mau memberi pinjaman yang baik kepada Allah."

Bukannya tersentuh, segelintir elite kaya di masa itu malah tertawa mengejek sambil berujar:

إِنَّ اللَّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاءُ

(Innallāha faqīrun wa naḥnu aghniyā’)

Artinya: "Sesungguhnya Allah itu fakir (miskin) dan kamilah orang-orang yang kaya"

Bagi mereka, meminta pinjaman itu tanda bangkrut. Berarti Tuhan sedang kehabisan uang dan butuh pinjaman modal dari kantong mereka. Sungguh sebuah cara berpikir yang luar biasa bebal.

Namun, Pak Sahiron mengajak kita melihat peristiwa ini dari kacamata yang jauh lebih jernih dan mendalam. Ada pelajaran etika tingkat tinggi, sesuatu yang dalam istilah teologi disebut al-mas’alah ad-daqīqah (persoalan yang amat pelik dan lembut).

Pernahkah Anda membenci seseorang setengah mati sampai-sampai memandang sosoknya pun Anda merasa jijik? Nah, di sinilah garis batas itu ditarik dengan tegas.

Al-Qur'an memang mencatat keburukan watak sebagian orang Yahudi Madinah kala itu: suka membantah nabi, menolak tugas bela negara, pelit luar biasa, hingga mengejek perintah sedekah. Namun catat baik-baik: yang dicela Al-Qur'an adalah perilakunya, bukan sosok manusianya.

Kita dilarang keras membenci ciptaan Tuhan. Anda tidak boleh membenci orang hanya karena dia bersuku Dayak, Badui, beragama Kristen, Yahudi, atau apa pun latar belakangnya. Membenci wujud manusianya sama saja menghina Sang Arsitek yang merancangnya.

Sama seperti Anda melihat seekor harimau menerkam atau ular mematok. Anda boleh membenci dan mewaspadai gigitan berbahayanya, tetapi Anda tidak punya hak membenci wujud ular atau harimau itu sebagai makhluk ciptaan Allah.

Dalam ilmu kalam (teologi Islam), ada jurang pemisah yang sangat terang antara wujud dan perilaku. Wujud manusia itu murni ciptaan Allah. Nol persen campur tangan kita. Tapi perilaku? Itu adalah buah dari al-kasb: usaha, pilihan sadar, dan ikhtiar akal budi manusia itu sendiri.

Maka, kaidahnya menjadi sangat adil:

Bencilah kebiasaan berjudinya, tapi jangan benci orangnya.

Kutuklah perbuatan mencurinya, tapi jangan rendahkan kemanusiaannya.

Tolaklah watak kikirnya, tapi tetap hormati hak hidupnya.

Mengapa harus sehati-hati itu?

Karena perilaku manusia itu dinamis. Orang yang hari ini kelakuannya bajingan dan suka mencemooh agama, siapa yang bisa menjamin kalau suatu saat nanti dia tersentak sadar, bertobat nasuha, lalu finis sebagai kekasih Tuhan yang mulia?

Sejarah sudah membuktikan itu berkali-kali. Lalu, apa obat bagi penyakit takut miskin yang bikin orang sampai tega mencela perintah sedekah? Kuncinya ada pada dua sifat Allah yang mengunci ayat tersebut: Allah itu Dzat yang yaqbidhu (menyempitkan) dan yabsuthu (melapangkan) rezeki.

Banyak orang mengira, kalau uang disimpan rapat-rapat di brankas dan tidak pernah dibagikan kepada fakir miskin, hartanya akan awet dan dia akan tetap kaya raya. Keliru besar.

Kalau takdir Tuhan sudah berkehendak menyempitkan (yaqbidhu) hidup seseorang, mau dia menimbun uang sekontainer pun, hidupnya akan selalu merasa bangkrut, gelisah, dan diperas oleh masalah tak berkesudahan.

Sebaliknya, orang dermawan yang tangannya ringan membagi sepiring nasi atau menyelipkan uang receh ke saku anak yatim, sedang membuka keran yabsuthu, kelapangan yang membuat rezekinya terus memancar dari pintu-pintu yang tak masuk akal.

Sedekah itu sejatinya bukan tentang berapa tebal nominal di dalam dompet Anda. Punya tabungan satu juta rupiah? Keluarkan sepuluh ribu untuk tetangga yang kelaparan. Hanya memegang uang lima puluh ribu? Sisihkan dua ribu perak ke kotak amal masjid terdekat. Lakukan itu setiap hari. Jadikan ia napas yang tak pernah putus.

Jangan menunggu menjadi kaya raya untuk berbagi, karena mereka yang beralasan "nanti saja kalau sudah bergelimang harta" sering kali adalah orang yang sama yang akan berteriak sombong ketika hartanya benar-benar tiba.

Rezeki itu bukan genangan air yang harus Anda bendung mati-matian hingga berlumut dan membusuk; ia adalah aliran mata air yang justru akan semakin jernih dan meluap setiap kali Anda alirkan untuk membasahi dahaga orang lain.

Catatan: Disarikan dari pengajian Prof. Dr. Phil. KH. Sahiron Syamsuddin, MA. (pada 8 September 2026) kitab tafsir Marah Labid li Kasyfi Ma'na Al-Qur'an al-Majid karya Syekh Nawawi Al Bantani.

Baca selengkapnya di Reliwise