Di Balik Kilatan Pisau dan Perut Paus: Dari Mana Rakaat Zuhur dan Asar Bermula? (Sholat part 2)

Artikel oleh Muhammad Zaki Fahmi · 6 Oktober 2026

Di balik empat rakaat Zuhur dan Asar yang sering kita kerjakan terburu-buru di sela jam kantor, tersimpan drama sebilah pisau di leher anak kandung dan pekatnya lambung paus di dasar samudra.

Bayangkan sebilah pisau yang sudah diasah setajam silet ditempelkan persis di urat leher anak kandung yang paling Anda cintai.

Anak yang kelahirannya Anda tunggu berpuluh-puluh tahun hingga rambut memutih. Anak yang baru saja mulai lincah berlari dan membantu ayahnya.

Atau bayangkan skenario lain: tubuh Anda melayang di laut lepas di tengah badai malam, lalu hap! Seekor monster laut menelan Anda bulat-bulat, mengurung Anda di dalam lambungnya yang pengap tanpa tahu apakah esok hari masih ada.

Bagi kebanyakan kita hari ini, azan Zuhur dan Asar sering kali cuma dianggap sebagai tanda jeda kerja. Alarm istirahat makan siang atau pengingat bahwa jam pulang kantor tinggal sebentar lagi.

Padahal, dalam kitab klasik Sullam al-Munājah karya Syekh Nawawi Al-Bantani, dua waktu salat itu lahir bukan dari rutinitas santai. Keduanya memuat drama penyelamatan paling mendebarkan dalam sejarah umat manusia.

Mari kita tengok padang gersang Mina di masa lampau.

Nabi Ibrahim AS sedang berdiri di puncak ujian keimanan terbesar. Beliau diperintahkan menyembelih putranya, Ismail. Tiga kali setan datang membisikkan keraguan dan cinta buta, tiga kali pula sang bapak melempar batu penolakan.

Begitu pisau hendak digerakkan dan air mata ketundukan tumpah, skenario langit berbalik seratus delapan puluh derajat.

Allah mengganti leher Ismail dengan seekor domba jantan (al-kabsy) yang gemuk dari surga.

Peristiwa dramatis itu terjadi persis saat matahari tergelincir dari puncaknya ke arah barat: ḥīna zawālis-syams, waktu yang kini kita sebut Zuhur.

Nabi Ibrahim tersungkur lega. Detik itu juga, beliau langsung bangkit mendirikan salat empat rakaat.

Rakaat pertama beliau persembahkan sebagai sujud syukur atas tebusan domba pengganti putranya (syukran ‘alal-fidā’).

Rakaat kedua beliau dirikan untuk merayakan sirnanya awan kesedihan yang sempat meremukkan dada (syukran ‘alā dzahābi ḥuznih).

Rakaat ketiga menjadi sarana tulus memburu rida Ilahi (li thalabi ridhallāh).

Dan rakaat keempat, sebagai ungkapan terima kasih atas nikmat daging kurban yang bisa dibagikan dan dinikmati bersama.

Konon, domba tebusan itu bukan hewan sembarangan. Itulah domba terbaik yang ribuan tahun sebelumnya dipersembahkan dengan penuh keikhlasan oleh Habil, putra Nabi Adam, yang disimpan di surga hingga tiba waktu diturunkan untuk menyelamatkan leher Ismail.

Lalu, bagaimana dengan empat rakaat Asar?

Latar belakangnya tak kalah mencengangkan. Tokoh utamanya adalah Nabi Yunus AS.

Setelah dilempar dari geladak kapal yang oleng di tengah amukan samudra, beliau ditelan hidup-hidup oleh ikan paus raksasa (al-ḥūt).

Di dalam perut hewan raksasa itu, Nabi Yunus terkurung dalam empat lapis kegelapan pekat sekaligus (azh-zhulumāt al-arba’): kegelapan malam (zhulmatul-lail), pekatnya dasar laut (zhulmatul-mā’), sempitnya saluran usus (zhulmatul-ḥasya), dan pengapnya rongga lambung paus (zhulmatul-baṭn).

Bisa keluar hidup-hidup dari perut paus di kedalaman laut lepas secara logika adalah kemustahilan mutlak.

Namun, doa taubat Nabi Yunus menembus langit. Ikan paus itu akhirnya berenang menepi dan memuntahkan sang nabi ke atas hamparan pasir daratan.

Nabi Yunus terbaring lemas lunglai di tepi pantai, rapuh tak berdaya layaknya anak burung yang baru menetas tanpa sehelai bulu pun.

Dan momen penyelamatan ajaib itu terjadi persis di waktu Asar: fī waqtil-‘aṣr.

Merasakan kembali hembusan angin pantai dan hangatnya mentari sore, Nabi Yunus bangkit dengan sisa-sisa tenaganya, lalu mendirikan salat empat rakaat:

فَرَكَعَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ شُكْرًا لِلَّهِ عَلَى خَلَاصِهِ مِنْ تِلْكَ الظُّلُمَاتِ الْأَرْبَعِ

(Fa-raka‘a arba‘a raka‘ātin syukran lillāhi ‘alā khalāṣihī min tilkazh-zhulumātil-arba‘)

Artinya: "Maka beliau mengerjakan salat empat rakaat sebagai ungkapan syukur kepada Allah atas keselamatannya dari empat kegelapan tersebut."

Satu rakaat untuk setiap lapis kegelapan yang berhasil beliau lewati.

Coba Anda renungkan kembali.

Di zaman nabi-nabi terdahulu, salat itu diecer per peristiwa mukjizat: Subuh salatnya Nabi Adam, Zuhur salatnya Nabi Ibrahim, Asar salatnya Nabi Yunus.

Tetapi kepada kita, umat Nabi Muhammad SAW, seluruh paket mukjizat dan doa penyelamatan itu dihadiahkan lengkap dalam satu rangkuman: lima waktu sehari semalam.

Sejatinya, tarikan napas kita setiap detik adalah utang syukur kepada Tuhan. Namun karena Allah Maha Tahu batas kelemahan manusia yang gampang lelah dan sibuk mengejar dunia, ibadah itu dipadatkan hanya menjadi lima waktu yang bila dikerjakan cuma menghabiskan beberapa menit.

Kalau untuk rukuk dan sujud selama lima menit saja kita masih sering mengeluh dan beralasan tidak punya waktu, betapa kerdilnya kita di hadapan mereka yang bersujud di atas debu ujian kehidupan.

Zuhur dan Asar bukanlah pengganggu waktu kerja Anda; ia adalah jeda suci untuk mengingatkan bahwa tanpa campur tangan Tuhan, hidup Anda mungkin sudah lama tersembelih oleh masalah atau karam ditelan pekatnya kegelapan.

Catatan: Disarikan dari pengajian Prof. Dr. Phil. KH. Sahiron Syamsuddin, MA. (pada 4 Oktober 2026) kitab Sullamul Munajat karya Syekh Nawawi Al-Bantani.

Baca selengkapnya di Reliwise