Dua Rakaat dan Sepiring Makanan: Cara Kelas Atas Menikmati Nikmat

Artikel oleh Muhammad Zaki Fahmi · 26 Juli 2026

Dapat nikmat kok cuma bilang “Alhamdulillah” di bibir? Coba tambahkan dua rakaat shalat syukur dan sepiring makanan untuk tetangga. Begitulah resep langsingnya Surah Al-Kautsar agar nikmat hidup terus bertambah.

Suratnya pendek sekali. Hanya tiga ayat. Anda pasti hafal di luar kepala.

Inna a’thainakal-kautsar.

Sesungguhnya Kami telah memberimu nikmat yang banyak.

Tapi, apa sebenarnya Al-Kautsar itu?

Uniknya, Al-Qur'an tidak memberikan definisi kaku. Dibiarkan terbuka. Maka para ulama pun mencoba menyelaminya. Ada tiga pendapat besar.

Pendapat pertama: Al-Kautsar itu nama telaga di surga. Airnya luar biasa nikmat. Sekali minum, hilang dahaga selamanya.

Pendapat kedua: Al-Kautsar itu nikmat kenabian. Diangkatnya Muhammad menjadi Rasul terakhir. Dituntun langsung oleh Sang Pencipta lewat wahyu, dari ayat Iqra’ sampai An-Nas. Berat tugasnya, dilempari batu dan kotoran saat dakwah, tapi keindahannya tiada tara karena selalu dijaga Allah.

Nah, pendapat ketiga ini yang paling membumi: Al-Kautsar adalah apa saja yang membuat hidup Anda bahagia dan bersyukur hari ini.

Gajian lancar? Al-Kautsar.

Badan sehat tanpa nyeri sendi? Al-Kautsar.

Lulus ujian, dapat pekerjaan, atau sekadar bisa tidur nyenyak? Itu semua Al-Kautsar.

Lalu, kalau sudah diberi nikmat sebanyak itu, kita harus bagaimana?

Al-Qur'an tidak menyuruh kita jemawa. Resepnya cuma dua kata: Fasalli dan Wanhar.

Pertama, Fasalli. Shalatlah.

Ini jalur vertikal. Hablum minallah.

Banyak dari kita, kalau dapat rezeki, cuma mengucap "Alhamdulillah" sepintas di bibir. Hati kadang belum ikut bergetar.

Padahal, ada cara yang lebih berbobot: Shalat Syukur. Atau shalat mutlaq.

Tidak harus rumit. Cukup dua rakaat.

Bisa dikerjakan setelah shalat Isya, di waktu Dhuha, atau kapan saja (di luar waktu yang dilarang). Niatnya sederhana: terima kasih kepada Allah atas nikmat hari ini.

Bagaimana kalau wanita yang sedang halangan/haid? Ya, tidak perlu shalat. Cukup resapi ucapan Alhamdulillah itu dalam-dalam dari relung hati terdalam, bukan sekadar basa-basi lisan.

Kedua, Wanhar. Berkurbanlah.

Ini jalur horizontal. Hablum minannas.

Secara harfiah, ini perintah menyembelih hewan kurban. Tapi ibrah-nya, pelajaran utamanya, adalah memberi dampak kepada orang lain.

Di sinilah indahnya tradisi kita di Indonesia. Orang Jawa khususnya, punya tradisi selamatan.

Hamil empat bulan? Selamatan.

Tujuh bulan? Selamatan lagi.

Sembuh sakit? Selamatan.

Pulang haji? Bikin bancakan. Makanan dibagi-bagi ke tetangga kanan, kiri, depan, belakang.

Itu bukan sekadar adat. Itu geniusnya dakwah para Wali Songo zaman dulu. Mereka menerjemahkan perintah Wanhar menjadi aksi nyata: berbagi makanan saat hati sedang bahagia.

Jadi, rumusnya sangat simpel.

Dapat nikmat , kemudian kerjakan shalat syukur (jalur langit) , serta bagi-bagi rezeki ke sesama (jalur bumi).

Kalau dua jalur ini rutin dikerjakan tiap kali dapat nikmat, sekecil apa pun nikmat itu, logikanya sederhana: Allah pasti tambah lagi nikmatnya.

Hidup jadi tenang. Hati jadi renyah.

Mumpung hari belum berganti, sudahkah Anda shalat syukur dua rakaat hari ini?

Catatan: Disarikan dari pengajian Prof. Dr. Phil. KH. Sahiron Syamsuddin, MA.

Baca selengkapnya di Reliwise