Tiga Rakaat di Ujung Senja (Sholat part 3 - selesai)
Artikel oleh Muhammad Zaki Fahmi · 7 Oktober 2026
Pernahkah Anda bertanya, kenapa di antara seluruh salat lima waktu, hanya Maghrib yang jumlahnya ganjil tiga rakaat? Di balik senja yang temaram itu, tersimpan drama pembelaan seorang anak atas fitnah keji yang menimpa ibunya.
Pernahkah Anda melamun sejenak menjelang senja dan bertanya: kenapa salat Maghrib ganjil sendiri? Subuh dua rakaat. Zuhur, Asar, dan Isya kompak empat rakaat. Hanya Maghrib yang menyendiri dengan tiga rakaat. Kenapa tidak digenapkan empat sekalian? Atau disederhanakan jadi dua seperti Subuh?
Jawabannya tersimpan rapi dalam kitab klasik Sullam al-Munājah karya ulama Nusantara kenamaan, Syekh Nawawi Al-Bantani. Tiga rakaat itu lahir bukan dari angka acak, melainkan dari sebuah peristiwa penyelamatan akidah yang luar biasa dramatis di ujung senja.
Pelopor pertamanya adalah Nabi Isa AS: wa awwalu man shallal-maghriba ‘Īsā ‘alaihis salām. Dalam keyakinan Islam, Nabi Isa tidak pernah mati di tiang salib. Beliau diselamatkan dan diangkat ke langit oleh Allah SW.
Alkisah, setelah peristiwa genting itu mereda, beliau muncul kembali di hadapan kaumnya persis ketika piringan matahari tenggelam di ufuk barat (ḥīna ghurūbisy-syams). Melihat sosok beliau, kaumnya gempar. Sebagian mulai mengultuskannya melampaui batas: menganggap beliau sebagai anak Tuhan atau bahkan Tuhan itu sendiri.
Maka, untuk mematahkan kesesatan logika tersebut, Nabi Isa langsung bersujud dan mendirikan salat tiga rakaat di hadapan mereka.
Rakaat pertama beliau tegakkan untuk menolak anggapan bahwa dirinya adalah tuhan:
لِنَفْيِ الْأُلُوهِيَّةِ عَنْ غَيْرِ اللَّهِ
(Li nafyi al-ulūhiyyati ‘an ghairillāh)
Artinya: "Untuk menafikan sifat ketuhanan dari selain Allah."
Beliau ingin membuktikan dengan bahasa tubuh yang paling nyata: "Lihat, saya ini makhluk. Saya hamba yang bersujud kepada Allah, bukan tuhan yang layak kalian sembah"
Rakaat kedua beliau dirikan untuk membersihkan nama ibunda tercinta, Siti Maryam, dari tuduhan fitnah keji kaumnya (li nafyi tuhmati ‘an ummih). Sejak melahirkan Nabi Isa tanpa sentuhan suami, Maryam dicaci maki dan dituduh berzina. Melalui rakaat ini, Nabi Isa menegaskan kembali kesucian sang ibu di hadapan khalayak.
Lalu, rakaat ketiga beliau persembahkan semata-mata untuk mengunci keyakinan mutlak bahwa penciptaan dan kekuasaan tertinggi hanya milik Allah:
لِإِثْبَاتِ التَّأْثِيرِ وَالْأُلُوهِيَّةِ لِلَّهِ وَحْدَهُ
(Li itsbātit-ta’tsīri wal-ulūhiyyati lillāhi waḥdah)
Artinya: "Untuk menetapkan bahwa pengaruh penciptaan dan hak ketuhanan mutlak hanya milik Allah semata."
Itulah sebabnya mengapa susunan salat Maghrib begitu unik. Dua rakaat pertama disatukan oleh duduk tahiyat awal, lalu rakaat ketiga dibiarkan berdiri menyendiri (munfarid). Sebuah rancangan ibadah yang elegan untuk menegaskan kemurnian tauhid.
Lalu, bagaimana dengan empat rakaat Isya? Kisah di baliknya tak kalah mengharukan. Orang pertama yang mendirikan salat Isya adalah Nabi Musa AS (wa awwalu man shallal-‘isyā’a Mūsā ‘alaihis salām).
Waktu itu malam telah pekat. Nabi Musa sedang membawa keluarganya menempuh perjalanan berat keluar dari kota Madyan. Di tengah padang pasir yang sunyi, beliau tersesat jalan. Bisa Anda bayangkan beban mental yang sedang menghimpit pundak Nabi Musa malam itu?
Syekh Nawawi mencatat ada empat lapis kesedihan mendalam (ahzān arba’ah) yang meremukkan batin beliau:
Pertama, cemas memikirkan kondisi istrinya di tengah dinginnya gurun (ḥuznun ‘alā zawjatih).
Kedua, gelisah memikirkan keselamatan saudaranya, Nabi Harun (ḥuznun ‘alā akhīh).
Ketiga, bingung memikirkan nasib anak-anaknya yang masih kecil (ḥuznun ‘alā awlādih).
Keempat, takut dan tertekan membayangkan kezaliman bala tentara Firaun yang siap memburu nyawanya (ḥuznun ‘alā sathwati Fir’aun).
Dalam gelap gulita yang menindih jiwa itulah, pertolongan langit turun. Allah membimbing jalannya, menjamin keselamatan keluarganya, dan menenangkan rasa takutnya dari kejaran Firaun. Seluruh empat duka itu diangkat tuntas oleh Allah.
Maka di awal malam itu, Nabi Musa tersungkur mendirikan salat empat rakaat. Satu rakaat untuk setiap helai kesedihan yang berhasil diurai oleh Sang Maha Penolong. Coba Anda resapi benang merahnya.
Dua rakaat Subuh adalah sujud leganya Nabi Adam lolos dari gelapnya malam pertama di bumi.
Empat rakaat Zuhur adalah rasa syukur Nabi Ibrahim saat leher Ismail digantikan domba surga.
Empat rakaat Asar adalah napas keselamatan Nabi Yunus saat dimuntahkan dari perut ikan paus.
Tiga rakaat Maghrib adalah pembelaan Nabi Isa atas fitnah dan ketauhidan.
Dan empat rakaat Isya adalah air mata kelegaan Nabi Musa saat empat beban hidupnya diselesaikan oleh Tuhan.
Semua pengalaman spiritual para nabi itu kemudian dirangkum lengkap dalam satu paket hadiah terindah saat peristiwa Isra Mikraj untuk kita, umat Nabi Muhammad SAW.
Salat lima waktu pada hakikatnya bukan beban ritual yang bikin hidup kita sempit. Ia adalah ruang istirahat. Tempat kita menaruh segala cemas, fitnah, dan tumpukan duka yang kita seret sepanjang hari dari jalanan kantor.
Kalau sedang lelah, luapkan semuanya di atas sajadah.
Dan jika malam nanti Anda merasa terlalu berat untuk bangun jam tiga dini hari, Mbah Maimoen Zubair dan Pak Sahiron memberikan jalan keluar yang sangat realistis: jangan tidur sebelum mengunci malam Anda dengan satu atau tiga rakaat witir setelah Isya. Tidurlah dengan hati yang tuntas dan tenang.
Salat bukanlah cara kita memberi sesuatu kepada Tuhan; salat adalah cara Tuhan menyelamatkan kita agar tidak hancur digiling oleh beban dunia.
Catatan: Disarikan dari pengajian Prof. Dr. Phil. KH. Sahiron Syamsuddin, MA. (pada 5 Oktober 2026) kitab Sullamul Munajat karya Syekh Nawawi Al-Bantani.